-->

Dua suara itu

Ini adalah pengalaman yang sangat berharga menurutku. pertama kali dalam hidupku, amanah untuk menjadi saksi di pilkada jabar, di suatu RT di RW tertentu di Bandung. Pagi-pagi aku datang dengan langkah agak cepat karena surat mandat yang kubawa belum diserahkan ke bapak ketua KPPS. aku yang tidak pernah mandi terlalu pagi pun akhirnya terpaksa dengan sukses menceburkan diri di air. dingin memang tapi apa peduliku, sekuat tenaga menahan dingin dan menggerakkan langkah. aku akhirnya tampil berbeda dengan hari biasanya, kalo boleh jujur rasanya masih belum cukup ilmu untuk menjadi saksi. aku tidak tahu apa-apa selain yang tercantum di kertas pedoman. berulang-ulang kubaca karena ingatanku yang terbatas dan sering lupa. aku yang sepertinya dengan gagah pergi untuk membela keadilan akhirnya bolak-balik dan tanya sana-sini karena tidak tahu lokasi TPS. aduh, aku tidak mau menyalahkan siapa pun tapi bagaimanapun juga aku baru mendapatkan surat mandat. kalau dipikir-pikir ini bukan salahku lho, dalam hati aku berpikir begitu. tapi mana ada orang yang mau tahu masalah itu, apalagi pengumpulan mandat harusnya sudah diserahkan sehari sebelumnya, itu sih menurut prosedur yang kubaca. sekali lagi aku berpikir, dan akhirnya kutekadkan untuk lanjutkan toh kalau tidak dilanjutkan akan sangat sayang, ini pengalam berharga lho. dimarahin dan diomelin juga pengalaman berharga agar suatu saat kalau terjadi lagi bisa sedikit social enginering. sambil berjalan aku memikirkan jawaban-jawaban dan ucapan minta maaf jika nantinya akan ditanya tentang keterlambatan ini.
Sesudah bertanya sana-sini akhirnya aku bisa menemukan TPS tempat aku menjalankan amanah. alhamdulillah ada satpam yang ternyata menjaga di TPS yang berdekatan, akhirnya aku pun datang dengan perasaan lega meskipun ketegangan itu tetap selalu ada. Melalui orang-orang yang sedang menata lokasi TPS aku mendapatkan jawaban bahwa ketua KPPS belum hadir. sambil menunggu aku sarapan dengan cepat karena kemungkinan waktu luang ketika menjalankan tugas sangat kecil, pikirku. beberapa saat sebelum acara pembukaan dimulai dengan sumpah aku menghampiri ketua KPPS dan menyerahkan surat mandat. dan ternyata apa yang kudapat. tolakan, ouh. tunggu, tapi bukan karena keterlamabatan seperti yang aku kira, ternyata sudah ada partner darii parti lain yang menyerahkan surat mandat. ouh, jadi begitu, formalnya setiap calon menyertakan satu saksi karena salinan dokument hanya disiapkan untuk 3 saksi tiap calon. aku tenang kembali, meskipun masih tegang.
Acara dimulai dengan sumpah anggota KPPS dan petugas keamaan. setelah semua menempati tempat masing-masing, aku menemukan beberapa tindakan yang bisa dimanfaatkan untuk melakukan kecurangan. meskipun waktu itu aku tidak bisa bertindak banyak karena kurangnya informasi yang build in di otakku, setidaknya dengan dokumentasi ini semoga aku bisa memperbaiki diri dikala nanti ketika mendapatkan amanah yang sama.
pemungutan suara telah dimulai, beberapa penduduk setempat banyak berdatangan. beberapa ada yang membawa anak, dan bagi yang sudah sepuh biasanya akan diantar oleh anak atau cucunya. di sini aku melihat ada tindakan yang mencurigakan yang dilakukan panitia. apalagi tindakan yang seolah-olah mengajari para sesepuh itu tertutup oleh bilik suara. jadi kita tidak tahu bagaimanakah tangan pelaku itu beraksi, apa benar-benar melakukan tugas atau juga mengambil kesempatan dengan mencuri suara orangtua yang sudah sepuh? itu yang tidak aku tahu, aku sendiri bingung tindakan apa yang sebaiknya kulakukan, menegur atau apa. apa hal itu boleh? pkirku berkali-kali dalam hati. aarrrgh, akhirnya aku hanya bisa mendekati pelaku tanpa berbuat apa-apa, hanya melihat dan sedikit memelototin jika terjadi kasus yang mirip saja. Seharusnya aku bertanya dan menegur langsung, mungkin tindakan ini akan kulakukan lain kali. ini adalah pelajar pertama.
itu adalah kasus pertama, diawal-awal aja udah gini, gimana nanti. aduh, berat. selanjutnya ketika penghitungan suara. senarnya kesempatan untuk berbuat curang itu sangat banya, tapi kali ini aku hanya bercerita tentang apa yang terjadi padaku. lanjut, kasus ini terjadi ketika penghitungan suara. sebenarnya menurutku kasus ini langka terjadi, dan ini murni kecelakaan (kesalahan panitia yang tidak disengaja). kalian tahu, jika ada surat suara yang sah maka penghitung akanberucap "empat sah". ya, dan ketika ada surat suara yang tidak sah biasanya akan berucap "tidak sah", begitukan? permasalahan muncul ketika ada kata-kata yang jika tidak didengar dengan teliti akan menimbulkan kesalahan dengar. seperti ketika penghitung mengucap "tiga sah" dengan "tidak sah", hal ini bisa menimbulkan kesalahan hitung jika sang pencatat data tidak teliti mendengar. dan juga ditambah ketika menggunakan pengeras suara yang malah semakin membuat sulit untuk membedakan mana yang "tiga sah" dan "tidak sah". ini kasus yang terjadi padaku. dan ahirnya "tiga sah" diganti dengan "tilu sah".
kasus lain terjadi ketika proses perhitungan masih berlangsung juga. Kesalahan ini mungkin disengaja atau tidak aku kurang tahu, yang jelas karena ini akhirnya ada penghitungan ulang oleh saksi. waktu itu aku belum terpikirkan kalau kertas suara yang di kumpulkan berdasarkan hasil suara itu akan menjadi bukti akhir penghitungan suara. ketika itu aku melihat seperti ada kesalahan penempatan nomor suara tapi aku abaikan karena konsentrasi dengan kesah-an kertas suara dan penulisan di kertas C2. dan selanjutnya ketika penghitungan suara berakhir, maka ketika ada kesalahan akan di cek ke bukti fisik, yaitu kertas suara. alangkah terkejutnya, suaranya selisih dua angka. ya Allah, ini pasti gara-gara kesalahan yang tadi, kenapa aku tidak langsung bilang dan beru sadar ketika semua sudah terjadi. akhirnya dengan persetujuan dua saksi lain kami menghitung kembali kertas suara. dan benar ternyata, ada lumayan banyak kertas suara yang tertukar tempatnya. aku menghitung dengan perasaan yang galau, semoga suara ini bisa kembali. penghitungan lagi telah selesai dengan berkurangnya suara nomor dua, dan bertambahnya suara tidak sah. alhamdulillah, suara nomor tiga tidak berubah dan sama dengan yang tertulis di kertas C2.
Semua berakhir dengan ucapan syukur, alhamdulillah dua suara itu tidak jadi hilang.

1 comment

  1. yeah pokoke, keep your faith on