Doa



Kami berjumpa biasanya hanya setahun sekali, atau tidak sama sekali seperti tahun ini. Orang yang selalu tersujud dengan doanya untukku setiap hari. Bayangan itu samar-samar di kepala tapi sangat kuat dalam hati. Doanya yang menjagaku sampai detik ini, dan aku percaya hal ini.

Setiap kali aku menginjak kelam, akan selalu ada yang membuatku untuk kembali. Dulu ketika setengah aku berada di kolam hitam, sendiri merasa bisa menjaga agar tidak tenggelam. Kupikir itu karena kekuatan kakiku yang mengayuh tapi dugaan itu salah. Itu adalah doa yang dipanjatkan untukku, doa yang membentang menarik diri ini agar tidak sampai karam.

Lima tahun berada di luar kotak aman menyadarkanku ada kekuatan di luarku yang menjagaku. Sekarang, lima tahun lain di kotak yang berbeda aku masih sering terjembab diperosok oleh licinnya kelam. Aku bertahan dengan pelampung hati berwarna putih kirimannya. Sekuat tenaga kucoba membalas suratnya saat sungkur logika berada paling rendahnya, aku berdoa.

Comments